Ternyata bacaan tahiyat awal dan tahiyat akhir itu sama saja

Dalam shalat lima kali sehari, kita mendapati ada empat waktu shalat yang memiliki gerakan duduk tahiyat awal, yaitu shalat dzuhur, ashar, isya, dan maghrib. Selama bertahun-tahun saya mempelajari, mulai dari jaman-jaman TPA dulu mengaji setiap malam hari di mushala hingga sekarang telah dihitung sebagai orang dewasa dan sempat ikut liqo’ pula, pemahaman saya beranggapan bahwa bacaan antara duduk tahiyat awal dan akhir itu berbeda, yaitu terletak pada bacaan shalawatnya.

Namun, dalam percakapan kemarin sore bersama seorang teman, saya baru tahu bahwa bacaan kedua tahiyat itu sama saja, hanya berbeda pada cara duduknya. Padahal sudah sejak 2005 saya punya buku shalat seperi rasulullah, tapi ternyata ada yang luput dari perhatian saya.

Pertama adalah posisi duduknya, seperti kita ketahui duduk tahiyat awal adalah duduk dia tas telapak kaki kiri yang dibeberkan dan telapak kaki kanan ditegakkan, jari-jari kaki kanan menghadap ke depan. Sebagian ulama beranggapan bahwa duduk tahiyat awal itu hanya untuk memudahkan saja karena setelah selesai membaca doa tahiyat kita akan bangun lagi untuk melanjutkan rakaat selanjutnya. Sedangkan pada posisi duduk tahiyat akhir, kita duduk di atas lantai atau tanah dan menyilankan telapak kaki kiri ke bawah tulang kering kaki kanan karena setelah ini kita tidak akan bangun lagi untuk rakaat selanjutnya, ini sudah penghabisan shalat. Hal ini yang membedakan posisi duduk tahiyat awal dan tahiyat akhir dalam shalat.

Kedua adalah bacaanya, ternyata bacaan yang kita baca sewaktu duduk tahiyat awal dan akhir itu sama saja. Seperti kebiasaan kita, membaca tasyahud pada tahiyat awal hanyalah sampai “…allahumma shalli ‘ala Muhammad…” saja. Lalu pada tahiyat akhir tasyahud kita lanjutkan dengan shalawat lengkap hingga …”fil ‘alamiina innaka hamidum majid.” Namun menurut buku Shalat Seperti Rasulullah, bacaan pada kedua macam duduk ini sama saja, yaitu membaca tasyahud dan melanjutkannya dengan shalawat lengkap.
Berikut dalil yang mendasari,

Dari Ibnu ‘Abbas, katanya: “Adalah Rasulullah s.a.w. telah mengajarkan kepada kami bacaan tasyahhud seperti ketika beliau mengajari kami surah Al-Qur’an. Beliau membaca attahiyaatul mubaarakaatush shalawaatuth thayyibaatu lillah, assalaamu’alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullaahi wa barakaatuh, assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibadillahish shaalihiin, asyhadu al laa ilaaha illallah, wa asyhadu anna muhammmadar rasuulullaah.” (HR. Muslim dan Abu Dawud)

Basyir bin Sa’ad berkata: “Allah telah memerintahkan kepada kami untuk bershalawat kepada engkau. Bagaimana kami harus mengucapkannya jika kami bershalawat dalam shalat?” Rasulullah saw menjawab: “Katakanlah allaahumma shalli ‘alaa muhammadiw wa ‘alaa aali muhammad, kamaa shalaita ‘alaa aali ibrahim, wabarik ‘alaa muhammadiw wa ‘alaa aali muhammad, kamaa baarakta ‘aala aali ibrahiima fil ‘alamiin, innaka hamiidum majiid.” (HR. Ahmad)

Adapun waktu mengucapkan shalawat sesudah tasyahud dijelaskan oleh hadits berikut,

“Apabila seseorang dari kamu telah membaca tasyahhud dalam shalat, bacalah allahumma shalli ‘alaa muhammad…” (HR Hakim, hadits lemah)

Meskipun hadits ini lemah, kita hanya menggunakannya untuk menentukan kapan kita bershalawat dalam shalat.
Demikian kajian pembenaran atas kesalahan yang saya (dan mungkin anda yang baca ini) lakukan. Mudah-mudahan Allah memberikan ampunan atas kesalahan yang kita lakukan yang tidak kita ketahui sebelumnya bagaimana amalan tersebut seharusnya dilakukan.

 

Tentang bapakyasman

saya seorang guru honorer
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s